Home » My Thinking » Worry

Saya masih teringat 4-8 tahun lalu saya sebel banget ma bapak karena bapak marah besar ke saya saat saya tidak bisa dihubungi. Yang di dalam benak saya, saya udah besar gak perlu lah seberlebihan itu jika saya gak bisa dihubungi. Toh saya juga gak jawab telefon karena konsen belajar (baca : sering nya sih maen game).

Saat itu saya belum faham apa yang terjadi, sampai suatu titik saya menyadari 1 hal : Khawatir. Saat saya sudah benar-benar hidup mandiri, saya mulai merasakan rasa itu, selalu menghubungi kabar ortu saat melakukan perjalanan jauh. Terbesit rasa khawatir saat mereka akan melakukan perjalanan jauh, dan merasa sangat lega jika mereka sudah sampai dengan selamat.

Mungkin ini yang mereka rasakan dulu (pastinya lebih dari yang saya rasakan), saya mulai menyesal kenapa dulu saya selalu sebal saat ditanyai kabar

Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookShare on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,699 other subscribers