Home » Book » Ternyata pemikiran kita tentang Disruptive Innovation selama ini, itu salah

Beberapa tahun terakhir ini kita sering sekali mendengarkan istilah Disruptive. Bahkan Disruptive ini sering menjadi kambing hitam atas tumbangnya sebuah incumbent atau market leader, jadi singkatnya di era digital ini jika ada sebuah incumbent yang bisnisnya runtuh maka Disruptive Innovation lah yang selalu menjadi biang keladinya. Ditambah dengan trend jumlah startup yang tiap tahun meningkat dan mengklaim memiliki ide Disruptive Innovation yang siap menumbangkan incumbent. Di Indonesia sendiri, istilah Disruptive Innovation diperkenalkan dan dipopulerkan oleh Rhenald Kasali. Beliau sering sekali mengisi seminar ataupun membuat sebuah tulisan dengan menggunakan istilah Disruptive Innovation untuk melihat sebuah fenomena. Bahkan beliau membuat buku sendiri yang berjudul Distruption. Saya tidak akan membahas jauh buku ini, meskipun saya merasa buku ini seperti the innovator dillema yang lebih dibumikan agar mudah dipahami oleh masyarakat Indonesia. Yang menjadi kegelisahan saya selama ini adalah apakah benar penempatan penggunaan istilah Disruptive Innovation? Kalau istilah Disruptive Innovation adalah hanya meng-online-in yang offline seperti gojek, uber, tokopedia, traveloka, dll. Maka orang jual pecel dengan ditampilkan di website bisa dikatakan Disruptive Innovation. Apakah sesederhana itu? Ternyata tidak.

Istilah Disruptive Innovation pertama kali diperkenalkan oleh Clayton M. Christensen, seorang profesor di Harvard Business School, pada tahun 1995 di jurnal yang berjudul disruptive technologies catching the wave, dan semakin populer pada tahun 2003 bersama terbitnya buku The Innovator Dillema. Sejalan dengan kegelisahan saya selama ini, Clayton, sang pencetus istilah distruptive, ternyata telah memberikan koreksi terhadap kesalahfahaman selama ini mengenai istilah distruptive Innovation yang dituliskannya di Harvard Business Review. Clayton mengatahkan bahwa banyak orang yang salah mengartikan istilah distruptive innovation. Bahkan, Clayton menambahkan bahwa orang-orang dalam mengartikan istilah tersebut, mereka tidak serius membaca buku the innovator dillema dan artikel-artikel pendukungnya. Sehingga mereka menggunakan istilah tersebut hanya untuk mendukung apapun yang dia inginkan ataupun tujuan mereka, misalnya untuk jualan konsultasi *ehhh*. Bahkan lebih jauh, jika ada client (incumbent) yang merasa penjualannya tidak lagi bagus, maka “konsultan” ini menggunakan disruptive innovation menjadi biang keladinya.

Memang apa pentingnya kita tahu tentang istilah disruptive innovation. Sangat penting, ini berhubungan dengan kemaslahatan perusahaan dalam menentukan strategi kedepannya. Karena strategi yang digunakan akan sangat berbeda dalam menghadapi kompetitor murni dan kompetitor yang menerapkan konsep disruptive innovation. Pada umumnya, perusahaan yang menerapkan konsep disruptive innovation adalah perusahaan yang memiliki kriteria low-end or new-market footholds. Yang dimana uber, gojek dan teman-temannya bukan masuk dalam kriteria salah satu syarat tersebut.

Low-end footholds ada karena incumbents terlalu fokus terhadap segmen pasar yang dirasa lebih profitable sehingga incumbents ini kurang menghiraukan bahkan meng-ignore konsumen yang dirasa kurang memberikan keuntungan, sehingga hal ini menyebabkan sebuah disrupter masuk dan menawarkan produk ke low-end customer. Sedangkan, new-market footholds adalah suatu kondisi dimana disrupters membuat market baru yang memang sebelumnya tidak ada. Sebagai contoh, pada awal kehadiran printer, Xerox hanya fokus menyediakan mesin fotocopy untuk perusahaan-perusahaan besar saja yang dimana Xerox  men-charge perusahaan-perusahaan tersebut dengan harga mahal sebagai kompensasi garansi performa mesin fotocopy Xerox. Akan tetapi pada awal 70an, beberapa kompetitor (kecil) Xerox memperkenalkan mesin fotocopy untuk personal yang dimana menawarkan harga yang lebih murah dan tentu saja fitur-nya tidak sekompleks milik Xerox. Lambat laut, personal photocopier ini menggerus pangsa pasar dari Xerox, atau yang familiar kita sebut dengan upstream.

Jadi balik lagi, apakah Uber, Gojek, Tokopedia adalah distrupter? Jawabannya Tidak. Karena pasar mereka sama dengan bisnis konvensional. Bahkan secara financial dan strategy, mereka tidak menunjukkan seperti kriteria yang diatas. Sebagai contoh Uber atau GoCar, mereka bukanlah distrupter bluebird. Mereka adalah kompetitor (murni) bluebird yang berhasil menyediakan layanan lebih bagus dan harga yang lebih murah tetapi tidak mencerminkan sebagai distrupter-nya Bluebird.

Satu hal lagi yang di-point out oleh Clayton, distruptive innovation bukanlah selalu melulu diidentitaskan dengan keberhasilan, tidak jarang distruptive innovation harus menemui kegagalan.

Rekomendasi dari Clayton sendiri untuk incumbent adalah untuk selalu melihat perusahaan-perusahaan yang berpotensi melakukan distruptive meskipun saat ini tidak mengganggu pasar incumbents. Sedangkan untuk menghadapi maraknya perusahaan baru (atau startup), incumbents harus bisa menjalin hubungan dengan konsumennya melalui sustaining innovation (ada di buku the innovator dillema), disini para incumbents harus berani berinvestasi sehingga bisa meningkatkan kualitas produknya dan ataupun melakukan efisiensi.

Adapun masih ada satu pertanyaan di benak saya yaitu, memang pernyataan Clayton mengenai distruptive innovation di atas ada benarnya, mengingat dia-lah pencetus istilah itu. Namun, apakah definisi distruptive innovation ini hanya boleh dimiliki oleh Clayton saja?

 

Ref :

https://hbr.org/2015/12/what-is-disruptive-innovation

Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookShare on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,697 other subscribers