Home » Journey » Teman dari Aleppo

Quartile ke 7 lalu saya dipertemukan dengan seseorang yang tidak pernah terduga sebelumnya, namanya adnan. Adnan adalah refugee dari suriah dan sudah tinggal 1 tahun lebih di belanda. Saat ini dia sedang menempuh master di TU/e.

Pertemuan kita berawal dengan duduk bersebelahan di kelas dan saling berkenalan. Saat kuliah berlangsung kita tidak banyak ngobrol.

Setelah kuliah selesai, saya mampir terlebih dahulu ke vending machine untuk membeli snack. Dan disanalah saya bertemu adnan utk ke 2 kalinya. Pertemuan kita kali ini tidak hanya say hello aja, saya memperkenalkan diri saya lebih jauh dan dia juga. Betapa kagetnya saya kalau dia dari suriah, sontak saya mngatakan saya muslim, saat itu juga dia memanggil saya brother. Dan setelah itu kita memutuskan utk mencari tempat duduk utk dapat ngobrol lebih nyaman.

Di dalam pembicaraan itu saya semakin kaget setelah tahu bahwa dia berasal dari universitas di aleppo dan sekarang universitas itu sudah rata dengan tanah. Dia pun bercanda bahwa jika ijazah bachelor nya dia hilang maka tamatlah riwayatnya karena dia tidak bisa meminta ulang. Saya pun ikut tertawa. Saat pembicaraan semakin dalam, saya meminta izin ke dia utk menceritakan bagaimana dia bisa ke belanda.

Dia mulai menceritakan bahwa yang bisa keluar dari suriah hanyalah orang2 kaya karena harus membayar “biaya pelarian” yg tidak murah. Karena dia bukanlah orang sangat kaya, maka hanya adnan yang bisa berangkat dengan dana seadanya, dia terpaksa meninggalkan keluarganya di suriah. Dia juga bercerita bahwa sudah 2 tahun dia tidak mendengar kabar orang tuanya, tetapi dia yakin Allah akan selalu menjaganya. Dia berhenti berbicara sejenak sambil menatap langit-langit kosong.

Dia melanjutkan cerita perjalanan dia dari suriah ke belanda. Dimulai dari melewsti lautan dengan perahu boat. Di boat itu dia bercerita orang-orang saling menguatkan, dari awal mereka sudah berjanji utk saling menjaga sampai benar-benar dipastikan meninggal. Tidak boleh meninggalkan orang yg belum meninggal, begitu kata dia. Dan sampailah dia ke yunani (sambil bercanda, dia awalnya mengira sudah sampai di perancis). Dari yunani mereka berjalan kaki berhari-hari ke hungaria, kemudian diarahkan ke austria. Sayangnya di austria mereka tidak mendapat jaminan menjadi warga negara, sehingga mereka melanjutkan perjalanan ke jerman. Di jerman inilah adnan baru mendapatkan kendaraan dari pemerintah menuju belanda. Dan sampailah dia disini. Saya tanyakan ke dia, berapa lama perjalanannya. Dia hanya menjawab lebih dari 1 bulan secara detail dia lupa karena saat itu yg ada dipikirkan adalah bagaimana bisa hidup utk hari esok, itu saja. Saya juga bertanya berapa orang yg selamat di perjalanan dia, dia malah menertawakam saya “Hatta, ini bukan tour yang bisa jalan berbarengan terus. Di setiap titik saya harus berpisah dengan orang yg lama dan berkenalan dngn orang yg baru. Jadi sayapun tidak bisa menghitungnya. Yang terpenting adalah saya masih hidup utk keesokan hari. Dan sekarang saya lega bisa hidup jauh dari suara bom dan senapan”

Di akhir pembicaraan, kita membicarakan rencana ke depan kita dan saling mendoakan.

Pertemuan itu memberikan pembelajaran berharga buat saya. Di saat kita hanya dipertemukan masalah gagal dan berhasil, di belahan bumi lain masalah mereka adalah hidup atau mati. Maka banyak-banyaklah bersyukur kita sudah diberikan kehidupan yang layak.

Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookShare on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,699 other subscribers