Home » Innovation Management » Tantangan Corporate Entrepreneurship

Sebelum membahas lebih jauh mengenai tantangan apa saja yang akan dihadapi Corporate Entrepreneurship, kita harus faham dulu mengenai perbedaan antara Corporate Entrepreneurship  dan Entrepreneurship.  Entrepreneurship adalah proses membuat suatu nilai dari suatu produk / jasa dengan mengkombinasikan ide atau hal yang unik untuk mengembangkan suatu opportunity. Sedangkan Corporate Entrepreneurship  adalah istilah untuk menggambarkan perilaku Entrepreneurship di dalam organisasi.

The dilemma, says Home Depot CEO Robert Nardelli, is that “there’s only a fine line between entrepreneurship and insubordination.”

Dewasa ini, pengembangan bisnis baru memiliki 3 tantangan :

  1. Bisnis baru yang muncul biasanya kekurangan informasi mengenai hard data. Ini bisa dimaklumi karena produk atau jasa baru belum ada di pasar sehingga data mengenai bisnis tersebut belum banyak yang provide
  2. Bisnis baru membutuhkan inovasi, inovasi membutuhkan fresh ideas dan fresh ideas membutuhan organisasi yang tidak konvensional. Kita sudah cukup mendengar bagaimana orang-orang yang terperangkap di dalam perusahaan yang menganut faham yang konvensional
  3. Tidak adanya kesesuaian  antara bisnis baru dan sistem lama. Ini sering terjadi kepada sistem penganggaran dan HR management

Harus diakui pendekatan tradisional sering mengalami kegagalan, pendekatan secara tradisional mendapatkan respon yang beragam.

  1. Diffused responsibility fizzles out (Penyebaran tanggung jawab yang tidak sesuai). Hal ini disebabkan karena karyawan lama sering mengabaikan ide-ide baru terutama yang memerlukan keterampilan baru
  2. Centralization isolates. Hal ini terjadi karena cara tradisional cenderung memisahkan usaha / bisnis baru dengan divisi yang sudah ada

Balancing Acts

Untuk memberikan keseimbangan kepada sistem lama dan baru, perusahaan harus bisa melakukan penyeimbangan (Balancing Acts)  di 3 area yaitu strategy, operations, dan organization.

1. Balance trial-and-error strategy formulation with rigor and discipline.

Bisnis yang baru akan menghadapi lingkungan yang ambigu (ambiguous environments). Ambigu tidaklah sama dengan ketidakpastian (uncertainty). Uncertain Environment, pilihan yang akan diambil sudah cukup jelas, berbeda dengan ambigu. Pada lingkungan yang ambigu, terdapat jarak yang cukup besar pada alternatif dan hasil yag belum diketahui dengan jelas

Untuk menghadapi hal tersebut dibutuhan balancing acts yang mengkombinasikan open-minded optimism dengan disciplined planning. Berikut ada 5 cara untuk manajemen untuk melakukan trial and error  dengan rigor dan discipline 

  • Narrow the playing field – Memperkecil ruang bermain (bisnis)
  • Learn from small samples, closely observed – Menggunakan hasil sampel yang didapatkan dari customer
  • Use prototype to test business models
  • Track progress through nonfinancial measures – Melakukan monitor pekerjaan yang tidak melibatkan faktor keuangan
  • Suspend judgment, but not indefinitely – Tidak terburu-buru melakukan penilaian terhadap sebuah bisnis

2. Balance operational experience with invention.

Dengan mengkombinasian sistem yang lama dan baru dapat meningkatkan keuntungan dan pekerjaan yang berkelanjutan. Untuk mengkombinasikan ke 2 hal tersebut, perusahaan harus melakukan hal berikut

  • Staff new ventures with “mature turks.” Di dalam tim tersebut terdapat manager yang mempunyai pengalaman berhasil menjalankan bisnis yang besar dan mempunyai kemauan untuk menjalankan tantanngan sebuah bisnis baru
  • Change veterans’ thinking.
  • Develop some capabilities, but acquire others. Tidak hanya mengembangkan kemampuan karyawan tetapi juga mengkombinasikan dengan merekrut karyawan baru
  • Share responsibility for operating decisions.

3. Balance new businesses’ identity with integration.

Bisnis baru pasti membutuhkan bantuan dari parent company untuk dapat mengembangkan identitas yang mandiri. Bantuan tersebut biasanya berupa protection, sponsorship dan berbagai tipe dukungan dari manajemen pusat. Perusahaan dapat mencapai keseimbangan jika mengikuti prinsip berikut :

  • Assign corporate and operating sponsors. Corporate sponsors adalah dukungan berupa kredibilitas perusahaan dan pengaruh terhadap bisnis baru sedangkan operating sponsors merupakan dukungan yang diambil dari departemen atau divisi lain
  • Establish criteria for handoffs. Perusahaan juga harus menyediakan kriteria saat terjadi handoff
  • Employ hybrid organizational forms. Perusahaan harus mampu menyeimbangkan identitas dan integrasi dengan menggunakan innovative organizational structures

 

Reference :  Garvin, D. A., & Levesque, L. C. (2006). Meeting the challenge of corporate entrepreneurship. Harvard Business Review, 84(10), 102-112, 150. (Register at HBR to access the article.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,711 other subscribers