Home » My Thinking » Salahnya Sendiri Miskin

Kemiskinan, sering sekali diidentikkan dengan kemalasan dan ketidak mampuan seseorang dalam menghadapi nasib.

Buat saya, yang pernah mengenyam bangku sekolah di sekolah negeri dari SD sampai SMA yang berisikan siswa heterogen dari berbagai lapisan masyarakat. Saat merefleksikan kembali kemiskinan, saya menyadari bahwa kemiskinan bukanlah melulu soal malas. Sebaliknya, terdapat sumbangsih kesempatan dan takdir yang membawa mereka ke lembah kemiskinan. Berteman dengan anak penjual sapu lidi, penjual bakso, tukang rombeng (barang bekas) ataupun anak seorang pembantu (single parent) membuat mata saya terbuka terhadap kemiskinan itu sendiri. Bisa saya katakan, 12 tahun hidup saya cukup bisa melihat secara utuh kemiskinan itu, yang dimana pada saat itu uang 500 perak itu sangatlah berharga bagi mereka. Saya masih ingat betul bagaimana ibu dari teman saya memarahi teman saya karena menghilangkan uang 500, saat itu saya memandang ibu-nya terlalu berlebihan. Namun, ternyata saat saya bertemu kembali dengan teman saya (sekarang dia seorang dosen), dia mengatakan 500 rupiah adalah 1/10 total pendapatan keluarga mereka dalam sehari. Saya jadi bisa membayangkan betapa berharganya uang 500 rupiah tersebut bagi mereka pada saat itu.

Hal itu membuat saya tersadar betapa dekatnya saya dengan kemiskinan, beruntunglah dan bersyukurlah saya memiliki orang tua yang ‘melek’ soal pentingnya pendidikan dan membiarkan saya fokus mengejar jenjang pendidikan setinggi mungkin tanpa direcoki soal ekonomi keluarga. Tentu saja, ini semua juga tidak terlepas dari izin Allah SWT membiarkan saya menapaki strata sosial yang ‘pantas’.  Meskipun begitu, saya tetap mencoba menjejakkan kaki tetap ke bumi untuk melihat realita kemiskinan dari kacamata mereka.

Oleh sebab itu, saya rada sebel saat kaum metropolis dengan entengnya komentar kalau kemiskinan itu akibat dari mereka yang malas belajar atau berusaha. Hello… Come on dude, kayaknya lo harus ngotorin sepatu pantovel lo, dan jangan kebanyakan nongkrong di st**b**k. Sekali-kali keluar lah dari mobil ber-AC yang lo tumpangi. Jangan cuma ngelihat rumah-rumah kumuh dari ‘akuarium’ ber-AC lo. Mungkin bagi mereka penggusuran adalah hal yang perlu dilakukan untuk menghilangkan pemandangan mata yang mengganggu dan merusak pandangan mata mereka, mengurangi kebanjiran yang konon katanya adalah faktor utamanya adalah mereka,  atau agar memiliki tempat hijau yang bisa dibikin tempat foto-foto untuk menambahkan koleksi foto instagram mereka.

Semakin jauh saya melangkah, saya mulai bergaul dengan orang kaya, bahkan orang kaya di kalangan orang kaya yang kalau ingin menenangkan diri tinggal menjetikkan diri maka pesawat dengan layanan VIP, yacht, ataupun helikopter pribadi siap melayani. Dari pergaulan itu saya semakin menyadari kesenjangan itu nyata adanya. Saya pernah ketemu anak orang kaya yang emang dari orok emang udah kaya. Dari kecil udah di-les-in bahasa inggris dan keluar negeri bukanlah hal yang ‘WAH’ buat dia, jadi ya bahasa inggris buat dia kayak ngomong di pasar aja. Dapat buku ini itu tinggal nunjuk tanpa mikir harganya berapa. Kuliah di luar negeri, gak perlu mikir biaya kuliah dan kehidupan disana, yang dimana biaya sebulannya bisa saya bikin buat DP rumah (bukan DP 0% ya :p ). Circle pergaulannya gak jauh-jauh dari anak konglomerat satu sampek anak konglomerat lain. Habis lulus, dia langsung megang top level di suatu perusahaan.

Dengan kenalan yang banyak dari temen-nya sendiri ataupun ortunya, dia bisa dengan mudah dapetin investor atau rekan bisnis dengan sekali ngupil. Sampai sekarangpung dia tetaplah kaya (Ya iyalah).  Pertanyaannya, teman saya ini apakah jadi sukses seperti sekarang karena kerja keras tanpa mengenal lelah sampai gulung-gulung koprol?

Beda cerita, dengan temen saya satu ini, sebut saja nama sebenarnya Toni. Saya ketemu dia terakhir kali 2 tahun lalu, saat dia ngamen di jalanan Surabaya. Dia adalah teman saya sewaktu SD. Bapak-nya adalah penjual bakso keliling dan dia berjualan koran setiap pagi sebelum berangkat sekolah untuk biaya sekolah dan jajan-nya.  Di sekolah, dia selalu peringkat 5 besar dan melanjutkan ke salah satu SMP favorit di kota saya. Tapi sayangnya dia tidak bisa melanjutkan sampai SMA karena dia harus menggantikan bapak-nya yg sakit untuk berjualan bakso. Jadi, pertanyaannya, apakah dia tidak bisa menggapai cita-citanya dan gagal melanjutkan sekolahnya gara-gara dia adalah pemalas dan seorang yang bodoh?

Tentu saja cerita ini hanyalah contoh kasus, dan tentu teman-teman juga bisa mendebat dengan memberikan kisah sukses orang yang miskin dan akhirnya sukses atau meraih pendidikan tinggi (ya saya juga menemuinya). Namun, ada baiknya kita mulai merenungkan kembali bagaimana nasib kita ‘yang lebih baik’ dapat mencapai titik sekarang ini. Meng-oversimplify bahwa kemiskinan adalah resiko dari kebodohan dan kemalasan adalah contoh tidak open-minded nya kita melihat realita yang ada. Butuh kerja yang ekstra bagi orang miskin (dibandingkan yang tidak miskin) untuk mendapatkan akses informasi atau ilmu yang dapat menunjang karir kesuksesannya atau pendidikannya. Jangankan hal itu, tidak jarang mereka tidak memiliki waktu untuk belajar karena mengisi perut adalah prioritas utama.

Jadi, tidak jarang mereka (orang miskin) lebih keras bekerja dibandingkan kita ini (kelas menengah ‘ngehe’). Mereka terpaksa melakukan itu karena kemiskinan yang diwariskan kepadanya, dan akhirnya hal itu yang terus memaksa mereka menjadi miskin. Kemiskinan ini diperparah dengan fakta bahwa jurang kesenjangan ekonomi di negara kita yang masih tinggi*. Bahkan 10 persen orang menguasai 77 persen total kekayaan negara**.

Masalah kemiskinan memang tidak bisa diselesaikan oleh satu ilmu terapan saja, butuh komprehensif konsep, ide dan aksi nyata. Tentu saja itu tidak mudah, tidak semudah membuat tulisan ini, tapi izinkanlah saya sekedar menuangkan keresahan saya ini. Jaga-jaga, saat takdir mempercayakan saya untuk menjadi orang kaya nanti yang mampu memberikan pendidikan tinggi dan favorit untuk anak saya nanti, saya tetap memiliki ke-naif-an menghancurkan kemiskinan yang telah menjadi warisan. Atau minimal, saya mampu mengingatkan sesama kelas menengah ngehe, untuk tidak menyalahkan si miskin karena kemalasannya.

 

  • * http://www.worldbank.org/en/news/feature/2015/12/08/indonesia-rising-divide (jika ada yg lebih update tolong bisa tinggalkan di kolom komentar)
  • * *http://www.thejakartapost.com/academia/2016/06/08/behind-the-rise-of-income-inequality-in-indonesia.html (jika ada yg lebih update tolong bisa tinggalkan di kolom komentar)
Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookShare on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,699 other subscribers