Home » My Thinking » Republik Twitter

As we know, twitter saat ini adalah barang yang lagi ngetren. Semua orang bisa berinteraksi secara langsung tanpa harus ‘berkenalan’ terlebih dahulu. Tapi dari segala kemudahan yang didapat dari twitter ada 1 hal yang bikin gemes yaitu orang yang merespon sebuah ‘wacana’ hanya dari 1 twit saja. Hak masing-masing orang sih tapi tetap saja ‘gemes’.

Terus bagaimana baiknya merespon sebuah wacana di-twitter

1. Membaca semua Timeline

Tidak jarang pengguna twitter merespon berdasarkan 1 twit saja tanpa (malas) membaca Timeline yang ada. Menurut saya sih gak etis jika mengomentari twit orang dari 140 karakter saja. Apalagi jika keseluruhan twit belum kelar udah ada aja yang merespon ‘sinis’. Rasanya kayak berak separuh :p

2. Jangan cuma baca headline

Seperti kita ketahui bersama, saat ini media cuma ngejar hit aja, Alhasil dibuatlah headline yang memprovokasi. Ada ¬†1 headline di suatu e-news yaitu “ahok study banding ke belanda”. Dasarnya orang males baca ‘berita’ seluruhnnya, langsung aja komentar “Eh benerin jakarta tuh jangan jalan-jalan”. Padahal isi beritanya adalah Ahok study banding via Skype. Ya kalau paket internetnya gak support browsing mending gak usah komentar

3. Profiling

Apakah mengetahui orang yang membuat twit itu penting ? menurut saya sangat penting. Karena apa ? Supaya kita tahu sudut pandang dia. Ada kejadian nih ada suatu akun yang mengejek dialek surabaya yang terdengar aneh. Banyak sekali yang mencaci maki, saat itu saya cari tahu siapa sih dia. Ternyata tuh orang bukan ‘orang bodoh’. Saya coba ber-empati, dan akhirnya saya menemukan jawabannya kenapa tuh akun bilang gitu. Dia mendengarkan dialek surabaya di komunitas *maaf* orang chinese surabaya saja. Saya (kita) sendiri akui logat/dialek yang dikeluarkan orang chinese yang tinggal di surabaya sedikit ‘berbeda’. Oh ya ilmu profiling saya dapatkan dari senior saya (mas dian wahyu) dan teman seangkatan saya (pradipta – doyok). Ini berguna sekali loh apalagi untuk pedekate *ehhhh

4. Googling

Ini adalah hal penting bagi saya, karena tidak asap jika tidak ada api. Jangan mempercayai sebuah wacana ditwit begitu saja. Cari tau informasi-informasi yang berkaitan. Karena saya orang teknik, saya menyebut ini adalah riset. Sepertinya buang-buang waktu tapi dengan membiasakan seperti ini, bisa membentuk pribadi yang tidak gampang terprovokasi

Terus apa yang bisa kita lakukan jika kena bully-ing di twitter ?

Mengutip kata rekan saya lmjaelani

Diam adalah pertahanan terbaik

Percayalah meluruskan suatu hal di twitter tidak akan memuaskan semua pihak karena  tidak semua pengguna twitter mau membaca semua klarifikasi (ini masalah tersbesarnya). Jika gemes, pastikan bukan akun-mu yang melakukan klarifikasi, biarkan orang lain yang melakukannya

Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookShare on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,699 other subscribers