Home » From My Friends » Naik sepeda di sisi kanan

Alhamdulillah salah satu target saya tercapai pada tahun ini yaitu bisa menuntut ilmu di Belanda. Ada beberapa hal menarik disini, mungkin semua teman-teman sudah tahu dibandingkan dengan negara kita, negara di eropa lebih bersih dan teratur. Sehingga saya tidak akan membahas itu saat ini.

1 minggu lalu saya membeli sepeda, perkara menggunakannya tidak ada masalah, yang jadi masalah adalah jalur yang digunakan. Ini pertama kalinya mengendarai “kendaraan” yang menggunakan jalur kanan, kelihatannya sepeleh tapi karena kebiasaan adalah sebelah kiri sehingga gak jarang bikin bahaya orang lain.

Sepedaku roda dua

Sepedaku roda dua

Dari kejadian itu saya berfikir kok kenapa bisa beda ya peraturannya ? ya ada berbagai alasan misal budaya, pertimbangan keamanan dan lain-lain. Dari satu contoh ini bisa dikatakan kita tidak bisa menentukan “yang paling benar” itu yang mana.  Beda lokasi, beda peraturan. Masalahnya jika ada masalah yang lebih rumit dan membutuhkan suatu keputusan yang universal, menentukan yang benar itu bagaimana ?

Ada cerita menarik soal “arti benar”. Setelah dianugrahi bisa terbang dan dipesan “tegakkan kebenaran”, Hanuman bangga. Abis itu dia bingung, “Kebenaran itu apa ya?”
Mengobati manusia itu benar. Tapi berapa banyak hewan yg dikorbankan utk kelinci percobaan obat? Ini yg bikin Hanuman bingung soal kebenaran
Rahwana tidak benar? Rama benar? Benar bagi siapa. Yang jelas, setelah Rahwana tidak ada, Rama jadi lunglai. Jadi kebenaran itu apa?

Dari cerita itu saya semakin bingung, bagaimana menentukan kebenaran untuk hal yang universal ? menggunakan asas HAM ? asas HAM milik siapa ? menggunakan rasa cinta damai ? kedamaian untuk siapa ? karena satu atau dua pasti harus dikorbankan. Belum lagi jika ada kepentingan bisnis ikut bermain di masalah HAM (soal ini sepertinya kita sudah sama-sama tahu), semakin tidak valid-lah tujuan-nya.

Ada salah satu tulisan menarik dari teman saya, yang mungkin bisa menjawab segala pertanyaan tersebut.

Hidup ini sebenarnya cuma milih penggaris, dan kemudian mengukur segala hal dengan penggaris itu. Yang penggarisnya budaya, ya sibuk mengukur kesesuaian segala hal dengan adat-istiadat. Yang penggarisnya tokoh idola, ya berkutat di mengukur pihak lain apakah sudah sejalan dengan idolanya atau tidak. Yang penggarisnya agama juga sama, banyak waktu digunakan untuk mengukur berbagai hal, apakah sudah cocok dengan pemahaman agamanya atau tidak. Yang penggarisnya ego, tentu saja segala hal diukur dengan seleranya sendiri.

~ sekarang, apa penggarismu?

Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookShare on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,699 other subscribers