Home » Journey » Memilih Agama Bukan Karena Yang Paling Benar

Minggu lalu saya melakukan perjalanan ke spanyol menggunakan transavia dengan penerbangan dari Eindhoven. Saya mendapatkan tempat duduk yang 1 row bertiga dan diapit oleh 2 orang bule. Seperti biasa, saya hanya ‘say hello’ diawal dan memilih diam sepanjang jalan.

Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 3 jam. Jadi estimasi, saya akan mencapai tempat tujuan sekitar pukul 6 sore, dan dilanjutkan dengan perjalanan bis. Kemungkinan baru bisa masuk hotel pukul 9-10 malam yang dimana sudah memasuki waktu maghrib. Sehingga saya memutuskan untuk sholat dhuhur di pesawat karena saya kawatir tidak menemukan ‘private space’ di bandara untuk sholat. Saat sholat di pesawat, sebisa mungkin gerakan sholat saya perhalus karena saya tidak mau ada masalah.

Setelah sholat, bapak sebelah kiri saya menyapa saya dan bertanya kepada saya ‘apakah saya baru saja melakukan gerakan sholat?’, dengan ragu-ragu dan perasaan was-was saya jawab iya. Tanpa disangka orang tersebut memperkenalkan dirinya dan mengatakan kepada saya bahwa dia juga seorang muslim. Dia ‘convert’ ke islam setahun yang lalu. Seketika itu juga raut muka saya berubah yang dari waspada menjadi sumringah. Dan tentu saja, saya penasaran bagaimana dia convert menjadi islam tetapi saya urungkan niat karena takut orang sebelah kanan saya mendengarkan pembicaraan kita dan ada percakapan kita yang mungkin bisa mengganggu dia, sehingga saya alihan pertanyaannya ke bagaimana pengalamannya saat menjadi seorang muslim. Dia mulai menjelaskan panjang lebar bagaiman struggling nya dia saat awal kali memeluk islam, tetapi beruntung dia ditemani oleh seorang kawan yang selalu membimbingnya. Sebagai gantinya, saya menceritakan kebiasaan umat muslim di Indonesia terutama saat ramadhan. Dan tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Jam 6 kita sudah mendarat.

Saat perjalanan menuju gate pintu keluar, akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya bagaimana dia bisa mengenal islam dan convert ke Islam. Dia menjelaskan bahwa dia tahu Islam dari temannya yang sempat tinggal 2 minggu di rumahnya. Dia kagum dengan kedisiplinan Islam terutama saat sholat (Maklum orang belanda, big fans soal waktu) dan dia juga kagum dengan karakter temannya. Akhirnya berdiskusilah dia dengan temannya, dan untuk pertama kali dia mencoba ikut sholat maghrib jamaah dengan temannya. Di saat itulah dia merasa menemukan apa yang dia cari, ketenangan dan kenyamanan. Mendengarkan suara (lantunan Al quran) membuat dia merasa tenang, dan saat sujud, dia merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya yaitu kenikmatan dari berserah diri.

Akhirnya dia mulai mencari tahu islam lewat internet dan buku-buku islam yang direkomendasikan teman-nya (sambil bercanda dia mengatakan kalau temannya tidak memberikan rekomendasi website yang dikunjungi, google pasti merekomendasikan ISIS).

Dan 3 minggu kemudian dia memutuskan untuk memeluk Islam. Awalnya dia struggling dengan larangan-larangan islam, tetapi dia tersadar larangan-larangan itulah yang melatih dirinya untuk tidak cross the line dalam hal apapun. Dan juga dia menambahkan, larangan-larangan itulah terutama minum alkohol yang merupakan preventive action untuk dia agar tidak mengalami kebingungan. Memang saat party dia berada di keramaian, tetapi tidak jarang jiwanya terasa kosong. Islam tidak hanya menyembuhkan tetapi juga mencegah.

Kemudian saya bertanya kepada dia, apakah saat 3 minggu mencari informasi soal Islam, dia juga mencari kebenaran Islam dibandingkan agama lain. Sebelum saya menyelesaikan pertanyaan saya, dia memotong dan mengatakan “saya tahu arah pembicaraanmu, saya mengetahui bahwa Islam adalah agama penyempurna dari agama-agama sebelumnya 3 minggu setelah saya convert Islam”. Dia menjelaskan bahwa pencarian kebenaran-nya dimulai dengan pertanyaan kenapa Al-Qur’an tidak memperbolehkan kita membuat versi bahasa lain agar mudah dimengerti. Akhirnya saya menemukan jawabannya yaitu Al Quran menjaga ke-asli-annya. Bisa kamu bayangkan, jika al quran ada banyak versi, 1 kata di dalam satu bahasa belanda saja bisa memiliki banyak arti dalam bahasa inggris, belum lagi jika versi bahasa inggris diartikan ke bahasa lain, artinya bisa berbeda. Dari situlah dia yakin Al Quran merupakan berasal dari Tuhan tanpa campur tangan manusia dan merupakan agama penyempurnah. Tetapi buat saya, hal itu bukanlah hal yang penting andai saja saya membaca itu di awal pencarian saya, karena yang saya cari adalah kenyamanan. Dan kebenaran itu hanyalah sebagai penguat atas keyakinan saya.

Sebenarnya banyak hal yang ingin saya tanyakan ke dia, tetapi sayangnya saya harus buru-buru mengejar bis, sehingga di tengah percakapan itu saya terpaksa harus mengucapkan kata perpisahan. Bahkan saya hanya mengenalnya dengan nama Ruud

Saat berpisah dengan Ruud, saya mulai merenung bahwa tidak semua orang memilih agama karena kebenaran-nya. Sebaliknya mereka memilih karena kenyamanan, dan kebenaran itu merupakan penguat iman itu sendiri. Saya membayangkan andai saja saat itu teman Ruud menjelaskan Islam dengan gaya “kafir-non kafir”, “neraka dan surga”, “membandingkan agama”, mungkin Ruud bukannya mendekat, bisa jadi sebaliknya dia menjauh. Oleh sebab itu, untuk beberapa case, saya kurang begitu cocok dengan ceramah umum dengan metode membandingkan agama. Bukan tidak suka, cuma masalah selera saja 🙂

Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookShare on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

6 Replies to “Memilih Agama Bukan Karena Yang Paling Benar”

  1. Maulana says:

    Seperti jawaban ustadku waktu SMA tentang pertanyaan khilafiyah yg aku ajukan, kata beliau “Ikuti kata hati”. Dalam kasus mas Ruud (eh bener mas2?) sepertinya berlaku hatinya kembali ke fitrah makanya merasa nyaman. Dan Alloh mendekati hamba-Nya sesuai dg kecenderungan masing2 selama mau membuka hati.

    1. hattabagus says:

      Setuju bngt la

  2. MashaaAllah. Cara orang memeluk agama Islam emang macam-macam ya. Dan biasanya kalau ketemu yang begini nih (muallaf), kita musti lebih semangat belajar mengenal agama kita sendiri.
    Bener banget. Beberapa kali cari tau tentang how to do right and proper dakwah, memang kalau kita mau mengajak seseorang untuk mengenal Islam, harus paham bener siapa orang yang mau kita ajak itu. 🙂

    1. hattabagus says:

      bener bngt fit, kadang kita lupa siapa ‘lawan bicara’ kita

  3. Dani Firman says:

    Halo Hatta,

    Assalamulaikum Wr Wb

    Cerita nya bagus, terima kasih sudah share melalui blog ini. Cerita ini relevan sekali dengan yang saya rasakan, saya punya asumsi, karena di Indonesia pemeluk agama Islam merupakan mayoritas, menyebabkan “mungkin sebagian/banyak” pemeluknya punya zona nyaman tersendiri sehingga enggan mencari kebenaran kenapa Islam menjadi agama yang dipilihnya.

    Selanjutnya dalam berinteraksi dengan non muslim, “mungkin sebagian/banyak” pemeluk agama Islam tidak berusaha menampilkan keteladanan inspiratif yang ada dalam agama Islam, sehingga kejadian seperti Ruud kalau di Indonesia mungkin malah menjadi kecil kemungkinannya, karena “mungkin sebagian/banyak” pemeluk agama Islam-nya, atau bahkan “mungkin sebagian/banyak” Ustadz lebih memunculkan expresi pemisahan antara Islam dan kafir.

    Kesimpulan nya sepakat, perlu ada paradigma bahwa dakwah yang mendasar adalah menunjukkan keteladanan, dan sepertinya ini bisa dimulai oleh siapa saja, tanpa perlu sampi menjadi penceramah.

    nb: Saya baru punya pandangan seperti ini sepertinya muncul setelah merasakan menjadi kaum minoritas di negeri orang, mungkin mirip dengan apa yang Hatta alami.

    Salam

    Cheers

    1. hattabagus says:

      Iya, saya setuju sekali, kadang kita harus menjadi minoritas utk keluar dari kungkungan ego sebagai mayoritas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,699 other subscribers