Home » My Life » Ikhlas

Apakah kamu pernah mendengar keluhan

Saya sudah berbuat banyak terhadap si X tapi si X kenapa tidak menghargai jerih payah saya

atau

Dia gak tau apa saya sudah berkorban banyak, habis manis sepah dibuang

Tidak jarang saya membaca status FB, twitter maupun keluhan beberapa teman  seperti keluhan di atas. Jika yang mengeluh berhadapan langsung dengan  saya, saya mencoba meluruskan arti kata ikhlas, saya bukanlah orang yang mempunyai jiwa 100% ikhlas. Tetapi saya sangat sadar,

ikhlas bagi saya adalah memberi apapun itu tanpa mengharapkan timbal balik apapun, dan biarkan tuhan yang bekerja

Apapun disini termasuk materi, ucapan terima kasih, pujian atau “anything”. Saya sadar “tuhan tidak tidur” atau dalam bahasa jawa “Allah boten sare”. Saya serahkan semuanya, saat saya sudah bertarung habis-habisan. Yang saya pikirkan di otakku adalah Allah dunia ini milikmu, tanpa ada satupun yang bisa keluar dari keinginanmu. Saya percaya Tuhan sayang sama saya, saya percaya karena tuhan telah memberikan banyak kenikmatan yang telah saya nikmati

Maka nikmat tuhan manakah yang kamu dustakan

Saat berkorban ke si X tidak jarang kita berharap si X akan membalas perbuatan kita atau minimal mengucapkan terima kasih. Jika itu yang terjadi, saya rasa tingkat keikhlasan kita masih kurang karena kita lebih percaya “balasan manusia” daripada balasan tuhan (sebenarnya manusiawi sih).

Ada beberapa cerita pribadi, maaf saya tidak bermaksud untuk sombong atau apapun, saya hanya mencoba share semoga kita bisa belajar bersama.

Cerita 1

Dulu saya maju mencalonkan sebagai kagama, dan saat itu tidak ada satupun angkatan saya yang bersedia menjadi tim sukses saya karena kesibukan masing-masing, malah yang menjadi tim sukses saya adalah para senior saya. Jujur saat itu saya kecewa berat, karena saya merasa telah melakukan banyak hal untuk angkatan saya. Dan akhirnya lambat laun saya sadar, saya beruntung tidak didukung, karena kejadian itu membuat saya lebih mawas diri. Saya tidak tahu apa jadinya jika angkatan saya membalas apa yang saya telah lakukan dengan menjadi tim sukses saya saat itu. Saya tidak tahu pasti apa yang terjadi, yang pasti saya cukup bersyukur dengan keadaan saya saat ini. Btw apakah saya tidak dapat balasan atas yang saya perbuat saat itu? Terbalas dengan sukses dan melebihi ekspektasi, memang tidak melalui orang-orang yang saya harapkan membalas, saya mendapatkannya dari orang lain yang benar-benar tidak terduga. Rencana tuhan memang lebih indah

Cerita 2

Suatu hari teman saya menghubungi saya dan dia minta bantuan saya untuk meminjami dia uang, jujur saat itu saya sedang dalam keadaan duit kepepet juga. Saat itu saya memutuskan saya hanya memberi separuh dari permintaan dia (saya mempunyai prinsip yang saya adaptasi dari mas muza dan husni, jika kamu meminjamkan uang ke seseorang niatlah memberi jika dia mengembalikan maka itu rejeki tambahan – tentunya bukan sembarang orang yang kita beri). Kenapa saya memutuskan untuk memberi, saya hanya ber-empati, jika saya diposisi “si penderita” betapa bahagianya saya. Dan saya sangat sadar kondisi “butuh bantuan” sangat memungkinkan terjadi kepada saya suatu saat nanti.

Secara logika saat itu “saldo” saya tidak cukup untuk menghudupi saya beberapa hari ke-depan, akan tetapi “Allah boten sare”, saya mendapatkan rejeki sangat tidak terduga. Apakah si X membalas perbuatan saya? belum, terus siapa yang memberikan kenikmatan tersebut? Balasan dari mana yang kamu harapkan dari si X atau Tuhan? lebih nikmat mana?  Mari kita sama-sama renungkan bersama

Al Baqarah 216

Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookShare on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,699 other subscribers