Home » Book » Apa Alasanmu Bekerja ?

5 tahun saya berkecimpung di Industri IT (konsultan IT), dan selama itu juga pula saya belum menemukan jawaban  besar kenapa saya harus bekerja, tujuan besar apa yang ingin saya capai? Apakah agar konsumen senang, mendapatkan gaji besar & bonus besar, karir bagus atau menjadi karyawan terbaik perusahaan?

Nyatanya, setelah itu semua didapatkan, bukanlah itu jawabannya. Dan (sialnya), iming-iming itu juga yang diberikan oleh team lead / manager (termasuk saya pada saat itu) kepada tim-nya untuk memotivasi mereka dengan harapan karyawan akan bekerja lebih giat dan memberikan kemampuan terbaiknya. Memang untuk dalam jangka waktu pendek, mungkin berhasil,  tapi sayangnya hal ini tidak akan berhasil dalam jangka waktu lama, karena memotivasi dengan cara itu hanya berefek sementara. Percaya atau tidak, dalam hitungan hari efek itu akan hilang dengan sendirinya entah lupa atau ada suatu masalah di kantor yang bikin tidak nyaman.

Sebenarnya, memotivasi seseorang untuk ‘mau’ memberikan kemampuan terbaiknya tidak melulu soal materi. Karena sepengalaman saya, seorang team lead / manager yang berkesan untuk saya adalah orang yang mampu menginspirasi tim-nya untuk bertindak, dengan cara memberikan tujuan jelas kenapa tim-nya mengapa mereka perlu melakukan itu dan kenapa harus mereka. Pemimpin-pemimpin seperti ini mampu menciptakan karyawan-karyawan yang bertindak bukan karena takut tidak mendapatkan apresiasi dalam bentuk materi, tetapi karena mereka terinspirasi.

Di dalam buku Start With Why – Simon Sinek. Simon menjelaskan bahwa ada 2 cara ‘meng-influence’ orang untuk melakukan sesuatu yaitu dengan Manipulation dan Inspiration. Manipulation adalah sebuah cara meng-influence orang dengan cara menawarkan sejumlah ‘manipulasi angka’ yang cenderung kurang proporsional, sebagai contoh tawaran naik karir, naik gaji, atau tambahan bonus, terdengar familiar? Jika iya, maka anda adalah salah satu korban manipulasi. Seperti yang saya sebutkan diatas, cara memotivasi seperti ini memang bisa berhasil, tetapi sayangnya temporary.

Cara ke-2 adalah ‘meng-influence’ orang dengan memberikan sebuah tujuan besar yang dimana karyawan tersebut turut memberikan dampak. Cara ke-2 ini sering kali digunakan oleh startup-startup saat ini dalam menggaet karyawan, dengan memberikan ‘tujuan’. Mungkin beberapa orang berfikir bahwa faktor utama ‘join’ startup adalah karena gajinya, nope. Ada tujuan besar dibalik itu, karena hampir setiap orang yang memilih bergabung di startup (secara sadar atau tidak sadar) memiliki visi untuk terlibat di dalam suatu hal yang besar, misal ikut dalam mengentaskan kesenjangan sosial-ekonomi di pedesaan, meningkatkan pendidikan atau membuka lapangan pekerjaan, hal ini pula yang saya tangkap dari salah satu head gojek – Ramda Yanurzha yang tulisannya bisa dilihat disini https://medium.com/@ramda/kenapa-pindah-c0f3ff24dcfe . Ramda bergabung ke Go-Jek karena ingin ikut terlibat dalam mengurangi kemacetan di Jakarta dengan mengoptimalkan penggunaan transportasi umum, kok bisa ? saya kutip tulisannya “Mungkin saja malah semakin banyak yang naik KRL justru karena sekarang ada Go-Jek?”. Masuk akal 🙂 Dengan adanya tujuan, Simon menjelaskan bahwa karyawan tersebut akan mencintai pekerjaanya, bekerja lebih produktif dan kreatif. Mereka berangkat dan pulang dengan hati yang bahagia. Mereka memperlakukan rekan kerja, klien, dan pelanggan mereka dengan lebih baik. Dengan begitu, karyawan yang terinspirasi dapat membuat perusahaan menjadi lebih kuat

Hal ini lah yang sering luput dari perusahaan-perusahaan korporasi saat ini, yaitu memberikan sebuah tujuan kenapa karyawan-karyawan mereka, mengapa mereka harus bekerja keras dan memberikan kemampuan terbaiknya untuk perusahaan.

Dulu saya pernah mengerjakan sebuah proyek yaitu pengembangan aplikasi SIM online untuk diterapkan pertama kali di Indonesia. Pada saat itu, untuk memotivasi kami, pemiliki proyek menjanjikan sebuah IPad kepada kami jika proyek nya berhasil, tentu saja kami senang sekali dan bekerja lebih bersemangat. Dan bisa diduga, semangat itu hanya bertahan beberapa hari saja, kita kembali ke rutinitas seperti biasanya (bekerja layaknya robot). Sialnya, meskipun proyek itu berhasil, Ipad tersebut tidak pernah ada di tangan kita.

Cerita akan mungkin sedikit berbeda jika pemilik atau team lead proyek tersebut menjelaskan kepada kita ‘big vision’ dari proyek ini, seperti menghilangkan praktek per-calo-an, menghapuskan korupsi atau mengefektifkan proses pembuatan SIM sehingga rakyat Indonesia bisa menikmati betapa mudahnya membuat SIM menggunakan sistem online.

Sekarang semua orang bisa menikmatinya, di dalam hati saya, ada perasaan bangga saat banyak mendengar masyarakat puas dan memuji sistem pembuatan SIM saat ini yang cepat dan tanpa praktik per-calo-an. Samar-samar teringat memori bagaimana kita membuat sistem ini dengan begadang, tidur di kantor hingga tidur di ‘rumah warga’ pada saat implementasinya.

Andaikan saja hal itu diberitahukan sebelumnya, ceritanya akan sedikit berbeda, kita akan memberikan seluruh tenaga kita untuk proyek ini tanpa sebuah keluhan

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,711 other subscribers