Home » My Thinking » Antara Cinta dan Realita

Love ?

Love ?

Seperti sebuah cerita asmara belum tentu juga semua orang mau memperjuangkannya, eits…. sebelum saya terlalu jauh menceritakan apa yang terjadi. Saya akan menceritakan asal muasal publish nya post ini (setelah mangkrak jadi draft). Pada saat itu dimulai lah pembicaraan “cukup serius” antara saya, Alki, Yoyo, Uchit dan Ali di depan rektorat UI mengenai awardee LPDP yang tidak kembali ke Indonesia meskipun jelas tertera di peraturan LPDP bahwa penerima beasiswa harus kembali ke Indonesia untuk memajukan negara. Tetapi memang harus diakui LPDP hanya memberikan peraturan tanpa punishment, seperti kalimat populer Saint Augustine : Punishment is justice for the unjust. Sehingga ada beberapa orang yang merasa aman jika melanggar peraturan tersebut, ya jika mau dikembalikan ke diri masing-masing, hati nurani lah yang mencegah kita untuk mengkhianati janji pengabdian tersebut. Tetapi sayangnya tidak semua orang memiliki hati nurani. Upsss…. Bahkan yang paling mencengangkan ada pihak yang merencanakan itu dari awal (tidak kembali ke Indonesia)

Saya sadar benar apa artinya uang rakyat, gimana gak ngelontok (faham betul) 4 tahun kuliah di doktrin bahwa kita (anak ITS) kuliah dibiayai rakyat, ada benarnya juga sih. Dengan fasilitas yang ada, saya saat itu membayar uang per semester hanya 1 juta rupiah. Sehingga terdapat idealisme untuk memberikan sumbangsih kepada negara, Cie elah…

Kalau dulu waktu kuliah tahu ada kejadian begini (orang yang lebih mentingin ego daripada negara padahal dibiayai negara), saya akan berteriak lantang tetapi setelah ditempa berbagai pengalaman, saya sadar apapun yang mereka lakukan adalah pilihan, tidak perlu kita campuri. Toh semua akibatnya ditanggung penumpang 😀

Ada beberapa alasan kenapa mereka enggan kembali ke Indonesia :

1. LPDP tidak meyediakan lapangan kerja bagi awardee LPDP

Mari coba kita fikir sejenak, awardee LPDP sangatlah beruntung, mendapatkan beasiswa hanya dengan syarat harus balik ke Indonesia. Banyak beasiswa yang mensyaratkan penerima-nya melakukan kontrak dinas setelah lulus dan percayalah itu tidaklah selalu menyenangkan. Dan lagi nominal yang diterima awardee beasiswa LPDP bisa dikategorikan relatif lebih banyak daripada beasiswa yang lain. Dari semua hal itu, pantaskah kita menuntut hal lebih dari LPDP? Coba pikirkan lagi

2. Menunggu keadaan Indonesia menjadi baik

Mostly awardee lupa, awardee disekolahkan dengan biaya tidak sedikit (konon ada yang mencapai 2 M) bukan tanpa harapan di pundak awardee. Awardee dibiayai oleh rakyat indonesia (dari pajak rakyat Indonesia) pasti barang tentu tugas awardee adalah memajukan Indonesia bukan menunggu Indonesia lebih baik. Meskipun alasan realistis lah yang digunakan untuk menjadikan pembenaran semua itu.

Dari 2 hal tersebut sebenarnya butuh 2 pertanyaan klise kepada hati nurani kita

1. Kamu Cinta Indonesia ?

2. Seberapa rasa besar Cinta mu?

Mengutip kata seorang gitaris Jazz Balawan :

Semua bisa bilang sayang

 

Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookShare on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

7 Replies to “Antara Cinta dan Realita”

  1. Cak Shon says:

    Wah, selamat, Alfu Mabruk Hatta!
    Saya dah pernah keliling TU Eindhoven lo.
    Semoga lancar dan sukses kuliah nya !

    1. hattabagus says:

      Terima Kasih Cak, Amin Cak shon 🙂

  2. rizka says:

    Kalau aku tetep pergi untuk kembali kok mas hat, selain kembali ke pelukan suami tersayang, kembali juga “menangkap” moment penting untuk Ilmu psikologi olahraga Indonesia. doakan aku ya mas hat. Semoga dibalik kenyeleneh-an aku selama PK akan ada sosok ica yang memang bisa bikin bangga Indonesia. *udah kangen duluan sama kelompok 8 yang sarafnya kejepit semua*

    1. hattabagus says:

      Ya ca, kita sama2 saling mendoakan dan mengingatkan. aku kok ngerasa Ke-nyeleneh-an teman2 adalah bentuk ke humble-an mereka 😀

      Amin…. semoga kita bisa bikin bangga Indonesia…

      Wawawawa……..

  3. sandra says:

    Di Indonesia dosen2 masih bangga jika sudah bersandang S2 atau S3. Itu yang membuat ristek di Indonesia kurang pesat. Setelah S3 alangkah baiknya jika tidak langsung kembali ke Indonesia. Setelah S3 ada yg istilahnya “Post Doc” atau “Post Doctoral Fellow”. Di negara maju. Syarat dosen di universitas adalah yg title nya sudah Assistant Professor. Yg notabene sudah minimal 3.kali post doc di tempat berbeda. Jd saya mendukung untuk lulusan LPDP yg akan penuh terjun dunia ristek dan akademik untuk tidak pulang ke Indoesia setelah lulus. Lanjutkan sampai 3-5 kali post doc

    1. hattabagus says:

      Memang idealnya seperti itu, tetapi yang perlu menjadi pertimbangan lain adalah “ditakutkan” mereka enggan balik…. padahal saat mengenyam pendidikan dibiayai negara (baca : rakyat)

      Memang harus ada mekanisme yang dapat mengoptimalkan oportunity dan juga meminimalisir “risk”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,693 other subscribers