kita bayangkan saja ada sebuah perkampungan. Kampung itu di kelilingi sungai besar. Satu-satunya akses keluar adalah jembatan beton yang dibangun berpuluh-puluh tahun oleh pemerintah pusat. Pada suatu hari, salah satu penduduk yang mencari ikan di sungai melihat ada yangganjil dengan jembatan itu. Fondasinya yang terbenam di air terlihat retak. Karena dia adalah sedikit diantara penduduk kampung yang memiliki pengetahuan tentang konstruksi, dia bergegas mengusulkan kepada kepala kampung agar jembatan itu direnovasi. Mendesak segera mungkin.

Masalahnya, tidak murah memperbaiki sebuah jembatan. Seluruh warga dikumpulkan di balai kampung. Semua diminta pendapatnya. Demokrasi. Pertanyaannya adalah apakah mereka segera memperbaiki jembatan itu dengan menggunakan iuran warga atau menunggu pemerintahpusat yang entahkapan baru bisa memperbaikinya. Itu pendekatan mengambil keputusan yang fatal sekali bukan? Meskipun seluruh dunia bilang itu cara terbaik : demokrasi

Karena mereka tidak memahami tentang konstruksi sipil, mereka tidak memahami tentang standar keselamatan, maka mereka berdebat hanya menurut setahu dan perasaan saja. Dan lebih dari itu tidak banyak warga yang bersedia memberikaniuran perbaikan jembatan. Mereka berkepentingan atas implikasi keputusan tersebut, lebih baik uangya untuk keperluan lain. Berdebat hingga malam, ketua kampung memutuskan mengambil keputusan dengan suara terbanyak. Bisa ditebak hasilnya, suara menolak menang mutlak. Perbaikan ditunda. Selesai.

Tiga minggu berlalu, disuatu pagi yang cerah, saat warga sedang banyak-bayaknya melintas di jembatan itu, anak-anak berangkat sekolah ke kampung lain, jembatan itu tiba-tiba runtuh. Tiga mobil angkutan pedeesaan langsung meluncur deras bersama kepingan beton. Limabelas anak meninggal ditelan sungai, tertimpa batu, terjepit. Lima anak lainnya meninggal saat dibawa ke rumah sakit terdekat. Benar-benar harga mahal yang harus dibayar dengan suara terbanyak, bukan?
Nah demokrasi memang membebaskan kita untuk saling mengutarakan pendapat, dan suara terbanyak adalah suara yang di anggap sah (legitimated). Lalu apakah standar kebenaran dalam demokrasi ditentukan oleh pendapat mayoritas?. Tentu tidak . Demokrasi adalah ciptaan manusia. Dalam catatan sejarah sistem otoriter absolut juga bisa memberikan kesejahteraan yang lebih baik. Kadang kita harus percaya pada keputusan otoriter sepihak seorang leader karena disanalah peran dia sebagai decision making yang tentunya punya kapasitas dan kapabilitas untuk menentukan sesuatu.

-TL-