3 hari lagi, genap setahun saya bekerja di Tokopedia sebagai product Owner, dan tentu banyak tantangan dan pelajaran berharga yang saya dapatkan. Dari semua itu, ada satu hal yang terpenting yang patut saya syukuri yaitu, i found my passion. Butuh 5 tahun lebih rasanya saya berkutat dari satu perusahaan ke perusahaan lain tapi saya kurang menikmatinya. Indeed, i can survive, dan di beberapa kesempatan i was the best, tapi di dalam lubuk hati yang terdalam, saya tidak bisa menikmatinya. Lets say, saya bisa memenangkan sebuah tender ataupun ‘memuaskan’ klien, tapi ternyata bukan itu yang saya cari selama ini, yang saya cari adalah sebuah pekerjaan yang bisa memberikan impact langsung ke orang banyak, melihat senyuman pembeli atau penjual karena hidup mereka semakin mudah, daripada melihat senyuman klien yang dipuji bos nya karena projectnya berhasil.

Product Owner itu apa? Di beberapa perusahaan, product owner dikenal juga dengan Product Manager. Jika dideskripsikan secara ‘simpel’, product owner adalah ‘CEO’ dari suatu Fitur atau Produk yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Sebagai contoh, saya adalah Product Owner Official Store di Tokopedia, jadi saya adalah orang yang bertanggung jawab memastikan bahwa pembeli-pembeli tokopedia dapat dengan mudah atau bahkan dimanjakan saat berbelanja di Tokopedia Official Store (OS). Selain itu, saya juga harus memastikan penjual di OS dapat dengan mudah berjualan. Jadi tidak hanya sebagai Project Manager (memastikan aplikasi atau sistem berjalan dengan baik), tetapi saya juga harus membuat inisiasi fitur atau approach baru yang dapat memberikan dampak positif ke sebanyak mungkin user Official Store.

Terus skill set apa aja yang dibutuhkan oleh Product Owner ? Ini yang menarik karena product owner bukanlah seperti project manager yang punya kekuasaan ‘absolut’ ke tim tech-nya. Jadi tantangannya semakin menarik.

Pertama adalah Product Management.  Product Management mencakup kemampuan dalam memahami product vision, product lifecycle, strategy, customer discovery, execution, user experience, marketing, data analysis, business mindset, agile mindset, project methodologies, dan terakhir artifacts. Skill set tersebut adalah main requirement seorang product owner (PO), kita tidak bisa jago di beberapa skill dan sangat lemah di salah satu skill, sebisa mungkin harus menguasai semuanya. Sebagai contoh, seorang PO yang memiliki product vision tetapi lemah di execution akan menyebabkan project / task nya berantakan, sebaliknya, jika kuat di execution tetapi tidak ada product vision, maka product yang telah didevelop akan ‘berlayar’ tanpa tujuan.

Emotional Intelligence. Emotional Intelligence mencakup social skill, social awareness, self-management, self-awareness. Skill ini sangat dibutuhkan terutama saat dihadapkan pada suatu konflik. Seorang PO dituntut tetap bisa memegang kemudi kapal secara ‘profesional’ bahkan pada saat kondisi tersudut, ada syarat tidak tertulis jika ingin menjadi PO yaitu tidak boleh BAPER. Karena saat kita berada di kondisi BAPER, kita akan cenderung defensif dan menyalahkan orang lain, daripada menemukan solusi dari keruwetan yang terjadi. Tidak hanya itu, seorang PO juga harus mampu membangun mental tim-nya yang lagi ‘ambruk’ pada saat kondisi kritis

Communication. Skill ini mencakup komunikasi formal maupun non formal, negotiating, presenting dan writing. Sangat cukup jelas mengapa skill ini diperlukan, PO akan bertemu banyak stakeholders sehingga diperlukan keluesan dalam berkomunikasi verbal maupun non verbal. Selain itu, seorang PO harus mampu meyakinkan orang, mengingat tidak jarang pekerjaan yang dilakukan melibatkan banyak pihak yang terkadang memiliki beda kepentingan

Collaboration. Skill ini mencakup leadership, teamwork, stakeholder management dan developing others. Skill ini tidak hanya dibutuhkan saat ‘cross-division’ tetapi juga internal tasks karena pada dasarnya kemampuan berkolaborasi sangat dibutuhkan mengingat PO adalah sebuah ‘jembatan’ yang ‘mengawinkan’ berbagai kepentingan dan tidak jarang harus meredam konflik kepentingan

Productivity. Skill ini terbagi menjadi decision making, problem solving dan time management. Untuk skill ini, cukup jelas peruntukkannya, sebagai sebuah ‘jembatan’, seorang PO harus mampu memutuskan keputusan yang tepat dalam waktu yang terbatas, menyelesaikan masalah atau isu yang telah menjadi tanggung jawabnya, dan tentu saja di dunia startup, waktu adalah harga yang mahal.

Harus diakui, semua skill tersebut tidaklah bisa dikuasai selama semalam, butuh guidance dan pengalaman yang tidak bisa digantikan dengan hanya membaca lembaran kertas. Oleh sebab itu, di post selanjutnya (semoga konsisten) saya akan berbagi pengalaman saya secara theoretical dan practical dalam menguasai skill set tersebut.

Semoga Bermanfaat

nb : saya bukan yang TER- , tapi semoga tulisan ini bisa memberikan gambaran singkat seorang product owner dan mengambil pembelajaran dari kegagalan-kegagalan saya

Ref : https://medium.com/@sebastienphl/my-product-management-reading-list-2017-cb874975c635